pendiri Nahdlatul Ulama ini.
Hal
tersebut ditegaskan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada acara haul
keenam Gus Dur yang dihelat di gedung PBNU, Rabu (30/12) malam. “Ketika
Mbah Hasyim tinggal di Mekkah dan berdoa di Multazam, beliau meminta
kepada Allah agar diberi kemampuan untuk merebut kemerdekaan dari
penjajah,” ujar Kiai Said.
Menurut doktor jebolan Universitas
Ummul Quro Mekkah ini, seorang wartawan Mekkah, Dr Thoriq Shihab,
pernah menulis bahwa Hadratussyekh Hasyim Asy’ari merupakan nasionalis
sejati. Ketokohan Mbah Hasyim sangat diapresiasi ketika tinggal lama di
Arab Saudi.
Bagi Kiai Said, Gus Dur mewarisi semangat berjuang
dari kakeknya. Tidak mementingkan diri sendiri merupakan ciri khas
seorang nasionalis sejati. “Maka tidak heran ketika Mbah Hasyim ditanya
hukumnya membela Tanah Air, bukan Islam lho, beliau menjawab bahwa
membela Tanah Air hukumnya fadlu ‘ain,” tutur kiai asal Cirebon ini.
Barangsiapa
yang mati membela Tanah Air, ia mati syahid. Sebaliknya, yang membantu
penjajah maka halal darahnya. “Ini fatwa penting Mbah Hasyim yang
dijadikan rujukan Bung Karno, Bung Hatta, dan Panglima Besar Jenderal
Sudirman,” tandas Kiai Said.
Menurut Kiai Said, Gus Dur merupakan
seorang yang visioner. Siapapun mesti bercermin kepada Gus Dur. Meski
demikian, siapapun yang bercermin kepada Gus Dur terlihat kecil sekali.
“Jika
seorang ulama bercermin kepada Gus Dur, kecil sekali keulamaannya.
Seorang pemimpin jika bercermin kepada kepemimpinan Gus Dur, kecil.
Seorang filsuf kalau bercermin kepada intelektualitas Gus Dur, kecil.
Bahkan, seorang pendemo sekalipun kalau bercermin kepada semangat Gus
Dur, kecil. Gus Dur berdemo dalam kondisi masih diinfus,” tandas Kiai
Said. (Musthofa Asrori/Mahbib)
Link NU Online
Tidak ada komentar:
Posting Komentar