Tahun 2015 akan
segera kita tinggalkan bersama. Ke depan kita akan menapaki lembar per
lembar tahun 2016. Betapapun pergantian tahun selalu menyisakan fenomena
menarik, dari mulai yang sangat ringan dalam dunia entertaintment sampai dengan kasus-kasus berat dan penuh intrik politik.
Pergantian
tahun merupakan suatu momentum untuk bercermin, lalu menemukan
kesalahan dan untuk selanjutnya merumuskan formula yang tepat untuk
membenahi kesalahan tersebut dengan harapan tak akan ada yang terulang
lagi di tahun depan. Toh bukankah pepatah kuno mengatakan bahwa
hari kemarin adalah sejarah, hari ini adalah realita dan hari esok
menjelma doa. Maka sebab hari kemarin adalah sejarah, sudah seharusnya
kita dudukkan secara benar agar bila ia salah tak terulangi lagi ataupun
mungkin jika ia benar maka harus kita perjuangkan kembali di hari-hari
esok nanti.
Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang hari
ini lebih baik dari hari kemarin, dialah orang yang beruntung, Siapa
yang hari ini keadaannya sama dengan kemarin maka dia rugi, Siapa yang
keadaan hari ini lebih buruk dari kemarin, maka dia celaka" (Al-Hadist).
Yang
utama dan terutama harus kita lakukan dalam konteks menyambut
pergantian Tahun ini adalah mendendangkan rasa Syukur yang tak
henti-hentinya kepada Allah SWT. Banyak karunia serta berkah yang telah
dianugerahkan kepada kita sepanjang mengarungi hari-hari di tahun 2015.
Banyaknya
problem, melimpahnya masalah bukan tidak lain kecuali hanya sebagai
media, instrumen, serta sarana Allah SWT untuk “mendidik” kita. Buahnya
tentu agar kita semua menjadi dewasa. Baik sebagai pribadi maupun
sebagai sebuah bangsa.
Allah SWT pernah mengatakan dalam Surat
Ibrahim: 7 Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: "Sesungguhnya
jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan
jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat
pedih".
Dalam konteks menyongsong tahun baru ini sangat relevan
bagi kita untuk merenungkan ajaran dan tauladan dari Rasulullah SAW soal
hijrah. Hijrah adalah sebuah perjalanan yang membawa kita kepada suatu
kemungkinan untuk berijtihad dalam hal apapun di aspek kehidupan ini.
Hijrah itu misalnya bisa dipahami dari idiom Al-Qur’an minaddhulumati ilannur dari
kegelapan menuju kepada peradaban yang terang benderang, dan kodrat
alam adalah semua aktifitas alam sunnatullah-nya adalah beranjak dari
kegelapan untuk bergegas menuju benderang cahaya.
Pengrus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam konteks menyongsong serta merayakan tahun baru ini mengimbau agar:
Pertama,
marilah kita tunjukkan suasana kebersamaan dengan kesederhanaan dan
kebersahajaan di dalam melaksanakan perayaan tahun baru serta
menghindarkan diri dari kegiatan-kegiatan yang merusak moral
kabut-kebutan, mabuk-mabukan, pesta minuman keras dan lain sebagainya.
Kedua, mari kita memelihara tali ukhuwwah wathaniyyah (persaudaraan sebangsa)
Ketiga,
mari kita jadikan momentum pergantian tahun untuk melakukan
perbaikan-perbaikan serta refleksi untuk kehidupan yang lebih baik di
tahun depan.
Alakullihal, mari kita sambut Tahun baru
2016 dengan menyujudkan rasa syukur kita bersama, baik sebagai pribadi
atau sebagai elemen bangsa dan negara.
Selamat Tahun baru 2016. Kita songsong Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.
Jakarta, 31 Desember 2015
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)
Dr. KH. Ma’ruf Amin
Sumber NU Online

Tidak ada komentar:
Posting Komentar