Pada suatu hari Gus Dur -saat itu masih jadi ketua PBNU-
melaksanakan ibadah umrah di bulanayo kita cari orang khowas (orang khusus / wali Allah)”.
Ramadhan. Ketika berada di dalam
masjid, setelah melaksanaka shalat tarawih Gus Dur berkata kepada KH.
Said Aqil yang saat itu menemaninya, “
Setelah berkeliling, mereka sampai di sebuah halaqah (lingkaran
yang membahas suatu ilmu dengan pembimbing seorang Syekh). Syekh itu
tampak ‘alim dengan tumpukan kitab disampingnya dan jenggot panjangnya,
namun Gus Dur segera pergi meninggalkannya.
Setelah itu mereka menemukan halaqah yang lain, tampak seorang syekh
yang sedang menjelaskan suatu ilmu di hadapan murid-muridnya yang begitu
banyak. Gus Dur terus melanjutkan langkahnya.
Akhirnya mereka sampai di sebuah sudut, tampak seoang laki-laki
-jama’ah umrah dari Mesir- yang sedang berdzikir. Mereka pun
mendekatinya. Tidak seperti biasanya -kebanyakan orang Mesir akan ramah
ketika ada orang Indonesia yang menghampirinya-, orang itu tampak tidak
sedang dengan kedatangan mereka.
Kemudian Gus Dur menyuruh KH. Said Aqil untuk mengenalkan dirinya
padanya, bahwa ia adalah ketua NU, organisasi terbesar di Indonesia,
dst. Mereka hanya bermaksud untuk meminta doa agar kondisi bangsa
Indonesia aman tentram. Ia pun mau berdoa.
Selesai berdoa ia segera meninggalkan mereka berdua. Dengan menyeret sorbannya di lantai ia berkata, “ya Allah, apa dosa-dosaku hingga engkau membuka rahasiaku pada orang itu”.
Menurut KH. Said Aqil, orang itu adalah wali Allah yang memiliki
derajat lebih rendah dari Gus Dur. Wali Allah yang derajatnya tinggi
bisa mengetahui wali-wali lain -yang biasanya senang bersembunyi dan
merahasiakan dirinya- yang derajatnya lebih rendah. Ila hadhrati Gus Dur Al-Fatehah..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar