Jumat, 19 Februari 2016

KH Ibrahim Nuruddin Lirap (1825-1931) Pelopor Pesantren Nahwu Shorof di Jawa Tengah

Asrama Pesantren Shorof Nahwu  (APSN) MIFTAHUL ULUM LIRAP, itulah nama pondok pesantren yang terletak di Dusun Lirap, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen. Akan tetapi pesantren ini lebih populer dengan sebutan Pesantren Lirap. Lembaga pendidikan Islam yang satu ini dikenal dengan spesifikasi pengajaran ilmu nahwu-shorof (gramatika bahasa Arab). Sehingga tak mengherankan jika alumninya rata-rata hafal kitab nahwu seperti Jurumiyah, Imriti dan Alfiyah di luar kepala.


Menyebut nama Pesanten Lirap tak bisa dilepaskan dari sosok ulama karismastik pada zamannya. Beliau adalah KH Ibrahim Nuruddin; tokoh pendiri sekaligus pengasuh yang istikamah membina Pesantren Lirap sekitar 44 tahun lamanya.
 

Lantas, bagaimana kisah cucu Kiai Ugerjati hingga merintis dan mengembangkan pesantren di wilayah yang dulunya dikenal angker dan wingit itu?
 

Jalani Titah Mertua

Semasa KH Abdurrahman mengelola Pesantren Al-Huda di Jetis Kutosari Kebumen, beliau dibantu oleh dua putra (Kiai Husein dan Kiai Chasbullah) serta seorang menantu (Kiai Ibrahim). Menurut pandangan KH Abdurrahman, berkumpulnya tiga kiai muda itu dirasa kurang efektif bagi pengembangan dakwah dan syiar Islam.
 

Tak lama setelah KH Abdurrahman membeli tanah seluas 300-an ubin di Lirap, beliau memanggil ketiga kiai muda untuk bermusyawarah. Lalu, beliau meminta kesediaan salah satu di antara mereka untuk mengembangkan syiar Islam di Lirap.
 

Mengingat musyawarah menemui jalan buntu, maka penentuan siapa yang harus hijrah dan berjuang di Lirap dilakukan melalui undian. Ternyata, Kiai Ibrahim yang waktu itu belum lama pulang dari Tanah Suci mendapat undian untuk menjalani titah sang mertua. Peristiwa tersebut terjadi tahun 1885 –saat itu usia Kiai Ibrahim sudah memasuki 60 tahun.
 

Singkat kisah, Kiai Ibrahim pun hijrah ke Lirap dan meninggalkan Jetis. Setelah dua tahun beliau mukim di Lirap, sejumlah santri mulai berdatangan untuk menimba ilmu. Para santri secara sukarela membangun gubuk-gubuk mereka sendiri berupa rumah panggung terbuat dari kayu dengan atap rumbia. Bangunan masjid “Baitul Hamid” yang berada di komplek pesantren pada awalnya berupa mushola panggung dengan atap rumbia pula.
 

Almaghfurlah Kiai Ibrahim mengasuh Pesantren Lirap sejak tahun 1887 hingga akhir hayat beliau tahun 1931. Sehingga masyarakat dan kalangan pesantren lebih akrab memanggil beliau dengan sebutan Kiai Ibrahim Lirap.
 

“Ayah saya KHM Sami’un adalah salah satu murid Kiai Ibrahim Lirap,” kata KH Abu Chamid, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ikhsan Beji Kedungbanteng.
 

Bagi kalangan pesantren di wilayah Jawa Tengah, Kiai Ibrahim dikenal sebagai ulama pelopor pesantren nahwu-shorof.
 

Selain KHM Sami’un (Purwokerto), ada sejumlah nama besar yang pernah berguru kepada Kiai Ibrahim. Mereka antara lain KH Badawi (Kesugihan Cilacap), KH Maksum (Lasem), KH Syaib (Banyuwangi), KHA Baidlowi (menantu Syekh Hasyim Asy’ari Tebuireng), KH Saifuddin Zuhri (mantan Menteri Agama RI), dan Prof KHA Kahar Mudzakkir (mantan Rektor UII Yogyakarta).
 

Trah Bangsawan

Konon, lantaran sikap kritisnya terhadap tradisi feodal waktu itu beliau diasingkan oleh keluarganya ke daerah Kulonprogo (Yogyakarta).
 

Siapakah beliau gerangan?

Beliau adalah Kiai Ugerjati, yakni salah satu cucu Brawijaya V dari garis keturunan Kiai Raden Adipati Sabiq. Di kemudian hari sosok ini dikenal sebagai Pangeran Buangan.
 

Adapun ayah Kiai Ibrahim Lirap, yakni Kiai Nuruddin (Imam Asy’ari), adalah generasi keempat alias cucu dari Kiai Ugerjati.
 

Ibrahim kecil lahir tahun 1825 di Maesan, sebuah desa di wilayah Kabupaten Kulonprogo. Ketika tumbuh remaja, Ibrahim muda mulai berguru kepada sejumlah ulama.
 

Di tlatah Jawa pemuda Ibrahim berguru kepada Kiai Bakar di Pesantren Porong (Sidoarjo), Kiai Nawawi di Pesantren Keling (Kediri), dan Kiai Ya’kub di Pesantren Siwalanpanji (Sidoarjo).
 

Selanjutnya, Kiai Ibrahim menimba ilmu di Tanah Suci sekitar 30 tahun lamanya. Guru beliau semasa di Tanah Suci antara lain Syekh Abu Bakar Satho dan Syekh Zaini Dahlan.
 

Tak hanya menimba ilmu, di Tanah Suci pula Kiai Ibrahim Lirap bertemu jodoh.
 

Ceritanya, waktu itu KH Abdurrahman Jetis sedang menunaikan ibadah haji. Turut serta bersama anak beliau (Nyai Siti Maemunah) yang berstatus janda sepeninggal suaminya KH Abdul Chalim.
 

Tanpa proses panjang, Kiai Ibrahim dan Nyai Siti Maemunah pun menikah di Tanah Suci.
 

Setelah akad nikah, pasangan pengantin baru diboyong oleh KH Abdurrahman dari Tanah Suci (Mekkah) ke Tanah Jawa (Jetis Kebumen). Tak lama berselang, Kiai Ibrahim mendapat titah sang mertua untuk babad ke-Islam-an di Lirap. Titah tersebut dijalaninya hingga akhir hayat. (*)

Sumber Berita: Satelit News

Tidak ada komentar: