Asrama Pesantren Shorof Nahwu (APSN) MIFTAHUL ULUM LIRAP, itulah nama pondok pesantren yang
terletak di Dusun Lirap, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen. Akan tetapi
pesantren ini lebih populer dengan sebutan Pesantren Lirap. Lembaga pendidikan
Islam yang satu ini dikenal dengan spesifikasi pengajaran ilmu nahwu-shorof
(gramatika bahasa Arab). Sehingga tak mengherankan jika alumninya rata-rata
hafal kitab nahwu seperti Jurumiyah, Imriti dan Alfiyah di luar kepala.
Menyebut nama Pesanten
Lirap tak bisa dilepaskan dari sosok ulama karismastik pada zamannya. Beliau
adalah KH Ibrahim Nuruddin; tokoh pendiri sekaligus pengasuh yang istikamah
membina Pesantren Lirap sekitar 44 tahun lamanya.
Lantas, bagaimana kisah
cucu Kiai Ugerjati hingga merintis dan mengembangkan pesantren di wilayah yang
dulunya dikenal angker dan wingit itu?
Jalani Titah Mertua
Semasa KH Abdurrahman
mengelola Pesantren Al-Huda di Jetis Kutosari Kebumen, beliau dibantu oleh dua
putra (Kiai Husein dan Kiai Chasbullah) serta seorang menantu (Kiai Ibrahim).
Menurut pandangan KH Abdurrahman, berkumpulnya tiga kiai muda itu dirasa kurang
efektif bagi pengembangan dakwah dan syiar Islam.
Tak lama setelah KH
Abdurrahman membeli tanah seluas 300-an ubin di Lirap, beliau memanggil ketiga
kiai muda untuk bermusyawarah. Lalu, beliau meminta kesediaan salah satu di
antara mereka untuk mengembangkan syiar Islam di Lirap.
Mengingat musyawarah
menemui jalan buntu, maka penentuan siapa yang harus hijrah dan berjuang di
Lirap dilakukan melalui undian. Ternyata, Kiai Ibrahim yang waktu itu belum
lama pulang dari Tanah Suci mendapat undian untuk menjalani titah sang mertua.
Peristiwa tersebut terjadi tahun 1885 –saat itu usia Kiai Ibrahim sudah
memasuki 60 tahun.
Singkat kisah, Kiai
Ibrahim pun hijrah ke Lirap dan meninggalkan Jetis. Setelah dua tahun beliau
mukim di Lirap, sejumlah santri mulai berdatangan untuk menimba ilmu. Para
santri secara sukarela membangun gubuk-gubuk mereka sendiri berupa rumah
panggung terbuat dari kayu dengan atap rumbia. Bangunan masjid “Baitul Hamid”
yang berada di komplek pesantren pada awalnya berupa mushola panggung dengan
atap rumbia pula.
Almaghfurlah Kiai Ibrahim
mengasuh Pesantren Lirap sejak tahun 1887 hingga akhir hayat beliau tahun 1931.
Sehingga masyarakat dan kalangan pesantren lebih akrab memanggil beliau dengan
sebutan Kiai Ibrahim Lirap.
“Ayah saya KHM Sami’un
adalah salah satu murid Kiai Ibrahim Lirap,” kata KH Abu Chamid, pengasuh
Pondok Pesantren Al-Ikhsan Beji Kedungbanteng.
Bagi kalangan pesantren
di wilayah Jawa Tengah, Kiai Ibrahim dikenal sebagai ulama pelopor pesantren
nahwu-shorof.
Selain KHM Sami’un
(Purwokerto), ada sejumlah nama besar yang pernah berguru kepada Kiai Ibrahim.
Mereka antara lain KH Badawi (Kesugihan Cilacap), KH Maksum (Lasem), KH Syaib
(Banyuwangi), KHA Baidlowi (menantu Syekh Hasyim Asy’ari Tebuireng), KH
Saifuddin Zuhri (mantan Menteri Agama RI), dan Prof KHA Kahar Mudzakkir (mantan
Rektor UII Yogyakarta).
Trah Bangsawan
Konon, lantaran sikap
kritisnya terhadap tradisi feodal waktu itu beliau diasingkan oleh keluarganya
ke daerah Kulonprogo (Yogyakarta).
Siapakah beliau gerangan?
Beliau adalah Kiai
Ugerjati, yakni salah satu cucu Brawijaya V dari garis keturunan Kiai Raden
Adipati Sabiq. Di kemudian hari sosok ini dikenal sebagai Pangeran Buangan.
Adapun ayah Kiai Ibrahim
Lirap, yakni Kiai Nuruddin (Imam Asy’ari), adalah generasi keempat alias cucu
dari Kiai Ugerjati.
Ibrahim kecil lahir tahun
1825 di Maesan, sebuah desa di wilayah Kabupaten Kulonprogo. Ketika tumbuh
remaja, Ibrahim muda mulai berguru kepada sejumlah ulama.
Di tlatah Jawa pemuda
Ibrahim berguru kepada Kiai Bakar di Pesantren Porong (Sidoarjo), Kiai Nawawi
di Pesantren Keling (Kediri), dan Kiai Ya’kub di Pesantren Siwalanpanji
(Sidoarjo).
Selanjutnya, Kiai Ibrahim
menimba ilmu di Tanah Suci sekitar 30 tahun lamanya. Guru beliau semasa di
Tanah Suci antara lain Syekh Abu Bakar Satho dan Syekh Zaini Dahlan.
Tak hanya menimba ilmu,
di Tanah Suci pula Kiai Ibrahim Lirap bertemu jodoh.
Ceritanya, waktu itu KH
Abdurrahman Jetis sedang menunaikan ibadah haji. Turut serta bersama anak beliau
(Nyai Siti Maemunah) yang berstatus janda sepeninggal suaminya KH Abdul Chalim.
Tanpa proses panjang,
Kiai Ibrahim dan Nyai Siti Maemunah pun menikah di Tanah Suci.
Setelah akad nikah,
pasangan pengantin baru diboyong oleh KH Abdurrahman dari Tanah Suci (Mekkah)
ke Tanah Jawa (Jetis Kebumen). Tak lama berselang, Kiai Ibrahim mendapat titah
sang mertua untuk babad ke-Islam-an di Lirap. Titah tersebut dijalaninya hingga
akhir hayat. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar